Ekonomi RI Masuk Zona Resesi, Bisa Lebih Parah dari 1998?

LIGAPEDIA – Pandemi COVID-19 yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesia memang sangat mempengaruhi roda perekonomian.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean mengungkapkan seluruh negara mengalami kontraksi. Rentang proyeksi dari pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran -5% hingga -4% di tahun 2020, terburuk dalam 80 tahun terakhir.

Dia menyebut ekonomi global hanya akan rebound secara parsial ke kisaran +3% hingga +4% pada 2021.

Namun proyeksi pertumbuhan 2021 diwarnai ketidakpastian yang tinggi karena tahun depan disebut masih ada fluktuasi bisnis yang tajam dan pemulihan yang tidak merata antar negara.

Adrian mengungkapkan perekonomian Indonesia sebenarnya telah menunjukkan tren penurunan bahkan sejak satu dekade lalu. Namun secara struktural di 12 dari 16 tahun pengamatan (2005-2020) pertumbuhan PDB antar kuartal di Q3 selalu lebih rendah dibanding PDB.

“Dengan mengacu definisi akademis terkait ‘resesi’ maka Indonesia sebenarnya telah masuk ke zona resesi bahkan sejak kuartal I 2020,” kata Adrian dalam keterangannya, Rabu (14/10/2020).

Dia mengungkapkan pertumbuhan antar kuartal yakni di akhir 2019 telah mengalami kontraksi sebesar -0,21%, kontraksi kedua di kuartal I 2020 -1,55%.

“Sehingga kontraksi ketiga kuartal II 2020 ini dapat dipandang sebagai konfirmasi bahwa Indonesia memang berada di zona resesi sejak semester pertama tahun ini,” jelas dia.

Adrian mengungkapkan lemahnya momentum ekonomi Indonesia akan berlanjut hingga kuartal I 2021. Ini artinya diprediksi kontraksi ekonomi akan berlanjut pada kuartal 4 2020 sebesar -2,3%.

“Pertumbuhan ekonomi di seluruh tahun 2020 dengan demikian akan mencapai -2% yoy. Selanjutnya jika terjadi kontraksi struktural berlanjut hingga kuartal I 2021 maka Indonesia akan berada dalam zona resesi yang lebih panjang dibanding episode krisis moneter tahun 1998,” jelas dia.

Menurut dia, bergesernya garis trend growth Indonesia sebagai akibat dari resesi yang berkepanjangan saat ini diberi label extended U-shaped recovery akan membuat momentum pemulihan ekonomi di 2021 menjadi terbatas.

“Saya perkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 hanya akan mencapai 3,8%,” jelas dia.

Riset DBS Bank Indonesia menyebutkan jika telah dilakukan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi minus 1%.

Sejak pandemi COVID-19, konsumsi rumah tangga pada kuartal kedua 2020 turun hingga 5,51%. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Walhasil, pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama menurun menjadi minus 5,32%.

Untuk mengimbangi rendahnya konsumsi rumah tangga, pemerintah berupaya menggenjot belanja negara.

SUMBER: Detik.com