DPR ‘Cium’ Ada Mafia Migas: Petinggi Pertamina Pasti Tahu

LIGAPEDIA – Para petinggi PT Petamina (Persero) diyakini mengenali para pelaku mafia migas (minyak dan gas). Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun disarankan memberantas mafia migas melalui para bos Pertamina.

Anggota Komisi VII DPR Kardaya Warnika menilai praktik mafia migas sebenarnya bisa dirasakan. Namun untuk mencari keberadaannya memang terbilang sulit.

“Kalau mengenai mafia migas itu ya saya selalu mengatakan ini seperti kentut, tercium tapi kalau dilihat siapa yang kentut susah, tapi dirasakan ada,” ujarnya kepada detikcom, Minggu (19/1/2020).

Menurut Kardaya, praktik mafia migas sulit diselidik lantaran kebanyakan dari mereka beraksi mengikuti peraturan yang ada. Namun mereka memanfaatkan celah-celah dari ketentuan yang berlaku.

“Mafia migas ini kan dilihatnya kalau pembelian minyak terasa lebih mahal dari yang semestinya, nah itulah tanda-tandanya. Sebetulnya mafia migas ini susah dilihat karena mereka bekerja mengikuti peraturan ketentuan, ya legal saja. Tapi mereka memanfaatkan celah-celah dari peraturan yang ada,” tambahnya.

Dia mencontohkan, misalnya ada proyek migas yang diikuti oleh sederet perusahaan. Jika ditelusuri ternyata induk dari induk perusahaan-perusahaan yang ikut tender merupakan satu pihak.

Dengan praktik seperti itu, Kardaya yakin, petinggi Pertamina selaku BUMN dan perusahaan migas terbesar di Indonesia tahu dan kenal dengan para pelaku mafia migas.

“Sebetulnya bos Pertamina pasti tahu itu. Mereka (mafia migas) biasanya mempunyai hubungan yang baik dengan petinggi,” tutur dia.

Oleh karena itu dia menyarankan Jokowi untuk memanggil para petinggi Pertamina. Paksa untuk menyetop praktik mafia migas, lalu ancam copot dari jabatannya jika itu tidak dilakukan.

“Presiden sudah mengatakan pertama dia ingin memberantas mafia. Kedua dia mengatakan dia tahu siapa yang bermain, menurut saya ya tinggal panggil saja dirut sama komut Pertamina. Tidak perlu bicara keluar, saya tahu ini orang yang bermain, saya nggak mau tahu praktik ini harus hilang, kalau tidak hilang maka sanksinya ya dicopot,” terangnya.

“Karena pejabat itu takutnya cuma satu kehilangan jabatan, sama tuhan saja dia tidak takut, habis disumpah dia melakukan aneh-aneh,” tutup Kardaya.

SUMBER : Detik.com