Gundah Gulana Wishnutama pada Pulau Komodo

Jakarta – Ada yang mengganjal perasaan Menparekraf Wishnutama setelah kunjungannya ke Pulau Komodo di Labuan Bajo, NTT. Apa itu?

Akhir bulan November kemarin, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama wakilnya Angela Tanoe melakukan kunjungan kerja ke Labuan Bajo. Labuan Bajo sendiri masuk dalam 5 Destinasi Super Prioritas.

Selama di Labuan Bajo, Wishnutama memantau perkembangan pembangunan pariwisata di sana, seperti pelabuhan hingga landasan pacu bandara.

Dirinya juga mampir ke Taman Nasional Komodo, di sana Wishnutama mengunjungi Pulau Komodo. Di situlah, ada beberapa hal yang dinilainya menjadi catatan penting.

Gundah Gulana Wishnutama Pada Pulau KomodoFoto: (dok Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

“Saya selalu kepikiran desa di Pulau Komodo. Bayangin, Pulau Komodo terkenal di dunia, tapi di desanya ada banyak hal yang memprihatinkan,” katanya dengan nada yang berat kepada detikcom, Sabtu (7/12) malam kemarin.

Desa yang dimaksud adalah Desa Komodo di Pulau Komodo. Ada 2.000 jiwa penduduk di Pulau Komodo yang terbagi dalam 500 KK, 1 desa, 5 dusun dan 10 RT. Perlu diketahui, warga desanya sudah lama menempati Pulau Komodo, jauh sebelum Pulau Komodo ditetapkan sebagai kawasan taman nasional.

Warga Desa Komodo mayoritas bermata pencaharian sebagai pelaku wisata. Ada yang menyewakan kapal, menjadi naturalis guide, menjual suvenir seperti patung komodo hingga menawarkan jasa operator tur.

Hanya saja menurut Wishnutama, masih banyak yang kurang di Desa Komodo. Pun untuk urusan pariwisata.

“Kalau ada kapal pesiar yang datang ke Pulau Komodo dan mau beli suvenir, itu harus pakai cash rupiah. Mereka (turis) tidak punya rupiah, melakukan pembayaran dengan cara lain juga tidak bisa. Hasilnya, turis keluar uang hanya untuk masuk tiket masuk ke Pulau Komodo,” paparnya.

Gundah Gulana Wishnutama Pada Pulau KomodoFoto: (dok Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Selain itu menurut Wishnutama, masih banyak potensi pariwisata dan ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan di Pulau Komodo serta di Labuan Bajo. Saat di sana, Wishnutama menemui para pelaku ekonomi kreatif.

“Saat itu di Labuan Bajo, ada yang datang dengan menempuh perjalanan 150 km. Antusias mereka sangat besar lho. Kita lalu bertukar pikiran, ternyata mereka punya banyak potensi. Ini harus dikembangkan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Wishnutama ingin membuat suatu tempat berkonsep creative center. Tempat itu nantinya jadi wadah bagi para pelaku ekonomi kreatif. Ada yang menjajakan kopi asli Flores, menampilkan pentas tarian, menawarkan banyak suvenir, dan lainnya.

“Nanti bisa juga sekaligus jadi destinasi wisata. Saya sudah bicara ke Menteri PUPR Pak Basuki, beliau setuju. Tempatnya masih kita cari, kalau bisa yang menampilkan lanskap alam cantik,” tuturnya.

sumber : detik.com