Rentetan Kemunculan Harimau dan Kecemasan Warga Sumsel

Palembang, CNN Indonesia — Harimau Sumatera selama hampir satu bulan belakangan meneror masyarakat di Sumatera Selatan. Sejak 15 November lalu, setidaknya 13 kali harimau muncul atau dilihat warga.

Akibat serangan harimau dua warga terluka, satu tewas, serta dua hewan ternak menjadi mangsa.

Berdasarkan laporan yang dihimpun Seksi Konservasi Wilayah II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, kawasan di sekitar Kantong Harimau Bukit Dingin dan Jambul Nanti Patah yang berada di dua daerah, yakni Pagar Alam dan Lahat, menjadi lokasi harimau-harimau itu muncul dan menyerang warga.

Di kawasan Kantong Harimau Bukit Dingin, penemuan jejak pertama terjadi pada Jumat (15/11) di Dusun Margo Mulyo, Kelurahan Dempo Makmur Kecamatan pagar Alam utara, Kota Pagar Alam sekitar pukul 07.30 WIB.

Seorang warga sekitar, Suparudin (67) menemukan jejak harimau tidak jauh dari kandang kambing yang terletak dekat rumahnya. Harimau diduga hendak memangsa kambing milik Suparudin. Lalu satu jam kemudian, Ketua RW Kampung 4 Gunung Dempo mendengar harimau mengaum.

Di hari yang sama pada pukul 15.00, seorang wisatawan pengunjung Gunung Dempo serta seorang pemetik teh melihat Harimau Sumatera berkeliaran di sekitar kebun teh. Pengunjung tersebut sempat merekam penampakan harimau menggunakan kamera ponselnya dan beredar di media sosial.

Selang satu setengah jam, Sulaiman (56) warga sekitar melihat harimau berkeliaran di dekat pondoknya yang masih berada di kawasan kebun teh.

Waswas Warga di Tengah Perburuan Harimau SumateraTim medis melakukan nekropsi atau bedah bangkai Harimau Sumatera liar yang mati terjerat di kantor BBKSDA Riau, Kota Pekanbaru. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Kemudian pada pukul 21.30 penyerangan pertama terjadi. Irfan (18) warga Kabupaten Musi Banyuasin yang sedang berkemah di jalur evakuasi pendakian Tugu Rimau, Taman Wisata Gunung Dempo diserang harimau saat berada di dalam tenda.

“Pak Sulaiman, warga sekitar mengaku mendengar Irfan berbicara hendak membawa anak harimau bila menemukannya sesaat sebelum harimau itu menyerang,” ujar Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan Martialis Puspito.

Keesokan harinya, Sabtu (16/11) pukul 09.30 masyarakat melihat jejak harimau di kawasan Kampung 4. Sugiman, petani teh yang sedang beraktivitas di kebun, melihatnya.

Pada pukul 10.00, Sulaiman dikejutkan dengan harimau yang kembali muncul di sekitar pondok kebun tehnya. Jarak antara Sulaiman dengan harimau tersebut hanya 2 meter, namun harimau tersebut hanya melintas dan tidak bereaksi dengan kehadiran Sulaiman.

Pada Minggu (17/11) warga mendengar auman harimau di sekitar kawasan wisata Dempo Park. Pada Senin (18/11) seorang petani kopi, Karim, kembali melihat penampakan harimau di sekitar kebunnya namun tidak ada penyerangan.

Pada hari yang sama, di lokasi yang berbeda yakni Desa Pulau Panas, Kelurahan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, seorang petani kopi Kuswanto (58) tewas akibat serangan harimau. Saat kejadian korban tengah memotong pohon besar menggunakan gergaji mesin di dalam kawasan hutan lindung.

sumber : cnnindonesia.com